Harga Ekspor Kopi Mulai Membaik Setelah New Normal

Nilai jumlah ekspor kopi arabika Aceh pada bulan Januari hingga April 2020 telah mengalami presentasi penurunan yang drastis, dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Nilai ekspor pada kuartal pertama tahun ini baru saja mencapai 17.527 juta dollar AS atau jika dirata-ratakan per bulannya hanya sebesar 4,381 juta dollar. Di mana angka tersebut telah jauh menurun dibandingkan kuartal pertama pada tahun 2019 lalu, di mana rata-rata per bulan nilai ekspor kopi arabika Aceh sebesar 5,170 juta dollar AS atau sebesar 62,050 juta dollar dalam setahun.

Permintaan Jumlah Ekspor Meningkat

Hal tersebut disampaikan Pimpinan Bank Indonesia Banda Aceh, yaitu Zainal Arifin Lubis dalam keterangan tertulisnya yang diterima Serambi, Selasa (16/6/2020). “Angka-angka itu kami terima berdasarkan data yang dirilis Kantor BI Pusat baru-baru ini,” ucap Zaina; Arifin Lubis.

Diungkapkan, penurunan tertinggi nilai ekspor kopi arabika Aceh terjadi ke Singapura. Tahun lalu, nilai ekspornya kopi ke Negeri Singa itu mencapai 8,148 juta dollar Amerika, atau rata-rata per bulan 679,073 dollar. Sementara pada tahun ini, selama empat bulan berjalan, bulan Januari hingga bulan April 2020 ini nilai ekspornya baru 60.071 dollar AS, atau rata-rata per bulannya hanya 15.017 dollar AS. Dengan hasil perhitungan tersebut, telah terlihat terjadi penurunan hingga mencapai 45 kali lipat.

Selain Singapura, ekspor kopi Aceh ke Kanada juga telah mengalami penurunan. Jika tahun lalu nilai ekspor mencapai 5.870.045 dollar AS, pada kuartal pertama tahun ini nilai ekspor baru hanya 1.580.013, turun kira-kira mencapai 23,83%. “Begitu juga ekspor ke Belgia di masa pandemi Covid-19 ini juga mengalami penurunan. Jika tahun lalu senilai 17.118.157 dollar AS, pada empat bulan pertama tahun ini baru 5.512.704 dollar Amerika, turun kira-kira mencapai 3,4%,” ucap Zainal Arifin Lubis.

Meskpun demikian, tambahnya, untuk sejumlah negara seperti Inggris dan Jerman, nilai ekspor kopi arabika Aceh untuk tahun ini masih relatif lebih tinggi. Inggris nilai eskpor tahun lalu senilai 3.583.362 dollar AS atau rata-rata per bulan 298.613 dollar. Sedangkan pada kuartal pertama tahun ini  nilai ekspor sudah mencapai 1.879.718 dollar atau sekitar rata-rata per bulan mencapai 469.929 dollar, meningkat 57,37%.

“Begitu juga nilai ekspor ke Jerman, tahun lalu rata-rata perbulan 305.418 dollar, pada akuartal pertama tahun ini rata-rata per bulan  565.151 dollar. Terjadi kenaikan sebesar 85,04%,” kata Zainal Arifin Lubis.

Melonjaknya peningkatan nilai eskpor kopi Aceh ke Inggris dan Jerman pada tahun ini, disebabkan karena adanya pengiriman biji kopi dalam empat bulan terakhir ini. Permintaan kopi di kedua negara Eropa ini sangatlah tinggi. “Permintaan terhadap kopi arabika Aceh oleh negara Inggris dan Jerman ini akan diperkirakan terus meningkat. Kita berharap di masa new normal ini, permintaan akan terus tinggi. Maupun pada sejumlah wilayah di negara Jerman dan Inggris, yang sudah mulai melakukan pelonggaran bagi warganya untuk beraktivitas,” ungkap Zainal Arifin Lubis.

Pimpinan Bank Indonesia Banda Aceh, Zainal Arifin Lubis mengatakan “Pada masa pandemi virus corona atau Covid-19 para petani kopi di Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Bireuen, minta pemerintah untuk menampung kopi-kopi mereka, karena importir kopi Aceh belum membuka keran untuk pembelian. Sekarang, setelah negara-negara importir kembali membuka keran dan sudah melonggarkan kegiatan lockdown, Zainal Arifin Lubis menambahkan, negara-negara tersebut mulai melakukan pembelian kopi arabika asal Aceh.

“Dengan mulai meningkatnya permintaan, maka secara perlahan harga jual kopi asal Aceh di negara-negara importir mulai naik,” ucap Zainal Arifin Lubis.